Menerima gaji seharusnya memberikan sedikit rasa lega setelah bekerja selama sebulan. Namun bagi sebagian orang, perasaan tersebut hanya bertahan beberapa hari. Tagihan mulai dibayar, kebutuhan sehari-hari muncul, beberapa transaksi kecil dilakukan, lalu tanpa terasa saldo sudah jauh berkurang sebelum tanggal gajian berikutnya tiba.
Masalah seperti ini tidak selalu berarti penghasilan terlalu kecil. Terkadang kita hanya belum mengetahui dengan jelas ke mana uang pergi setiap bulan. Pengeluaran kecil yang terlihat tidak berarti jika dilakukan berulang kali dapat berubah menjadi jumlah yang cukup besar.
Karena itu, mengatur keuangan pribadi tidak harus dimulai dengan investasi atau strategi finansial yang rumit. Langkah pertamanya justru jauh lebih sederhana: mengetahui kondisi keuangan sendiri dan mulai memberikan tujuan kepada setiap uang yang dimiliki.
1. Cari Tahu Ke Mana Uang Pergi
Sebelum membuat anggaran, lihat terlebih dahulu bagaimana uang digunakan selama ini.
Coba periksa transaksi satu bulan terakhir.
Pisahkan pengeluaran menjadi beberapa kelompok seperti tempat tinggal, makanan, transportasi, tagihan, cicilan, hiburan, belanja, dan kebutuhan lainnya.
Tahap ini terkadang memberikan kejutan.
Seseorang mungkin merasa jarang mengeluarkan uang untuk hal yang tidak penting. Namun setelah seluruh transaksi dijumlahkan, pembelian kecil seperti kopi, makanan pesan antar, biaya aplikasi, atau belanja spontan ternyata mengambil bagian cukup besar dari penghasilan.
Tujuannya bukan menyalahkan diri sendiri.
Kita hanya membutuhkan gambaran yang jujur mengenai kondisi saat ini sebelum menentukan apa yang perlu diperbaiki.
2. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
Tidak semua pengeluaran memiliki tingkat kepentingan yang sama.
Kebutuhan biasanya mencakup hal-hal yang memang diperlukan untuk menjalani aktivitas sehari-hari, seperti makanan, tempat tinggal, transportasi, listrik, atau kebutuhan kesehatan.
Keinginan lebih fleksibel.
Makan di restoran, membeli pakaian baru ketika lemari masih penuh, mengganti gadget yang masih berfungsi, atau berlangganan beberapa layanan hiburan dapat masuk ke dalam kategori ini.
Bukan berarti semua keinginan harus dihilangkan.
Keuangan yang terlalu ketat juga sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Yang penting adalah mengetahui perbedaannya sehingga ketika harus mengurangi pengeluaran, kita tahu bagian mana yang dapat disesuaikan terlebih dahulu.
3. Buat Anggaran yang Realistis
Kesalahan umum ketika pertama kali membuat anggaran adalah membuat aturan yang terlalu ketat.
Misalnya seseorang biasanya menghabiskan Rp2 juta untuk hiburan dan makan di luar, lalu tiba-tiba menetapkan anggaran Rp200 ribu untuk bulan berikutnya.
Secara teori terlihat bagus.
Dalam praktiknya, perubahan ekstrem seperti itu sering sulit dipertahankan.
Mulailah dari angka yang realistis berdasarkan pengeluaran sebelumnya. Jika ingin mengurangi suatu kategori, lakukan secara bertahap.
Anggaran yang bagus bukan anggaran yang terlihat paling hemat di atas kertas, tetapi yang benar-benar dapat dijalankan.
4. Sisihkan Uang di Awal Bukan di Akhir
Banyak orang memiliki rencana seperti ini: menggunakan uang untuk kebutuhan selama sebulan kemudian menabung apa pun yang tersisa.
Masalahnya, sering kali tidak ada yang tersisa.
Pendekatan yang dapat dicoba adalah membalik urutannya.
Ketika menerima penghasilan, sisihkan terlebih dahulu sejumlah uang sesuai kemampuan untuk tabungan atau tujuan finansial. Setelah itu barulah sisa uang digunakan untuk kebutuhan lainnya.
Nominalnya tidak harus langsung besar.
Konsistensi lebih penting ketika baru membangun kebiasaan.
Memindahkan uang secara otomatis ke rekening terpisah setelah menerima penghasilan juga dapat membantu mengurangi godaan untuk menggunakannya.
5. Mulai Membangun Dana Darurat
Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Kendaraan dapat mengalami kerusakan, pekerjaan dapat berubah, barang penting perlu diganti, atau muncul kebutuhan mendesak lainnya.
Tanpa cadangan uang, pengeluaran tidak terduga dapat memaksa seseorang menggunakan kartu kredit, pinjaman, atau mengambil uang yang sebenarnya disiapkan untuk tujuan lain.
Di sinilah dana darurat memiliki fungsi penting dalam perencanaan keuangan.
Dana ini sebaiknya dipisahkan dari uang untuk kebutuhan rutin sehingga tidak mudah digunakan.
Jumlah yang dibutuhkan setiap orang juga dapat berbeda tergantung pengeluaran, tanggungan, kestabilan penghasilan, dan kondisi masing-masing.
Jika membangun cadangan besar terasa berat, mulai dari target yang lebih kecil terlebih dahulu. Setelah tercapai, tingkatkan secara bertahap.
6. Periksa Pengeluaran Berulang
Salah satu jenis pengeluaran yang paling mudah terlupakan adalah biaya berlangganan.
Streaming film, musik, penyimpanan cloud, aplikasi, membership, software, dan berbagai layanan lainnya sering menggunakan pembayaran otomatis.
Satu layanan mungkin terlihat murah.
Masalahnya muncul ketika ada banyak layanan aktif sekaligus.
Periksa seluruh pembayaran berulang dan tanyakan apakah semuanya masih digunakan.
Jika sebuah layanan sudah berbulan-bulan tidak dibuka tetapi masih menarik pembayaran, mungkin sudah waktunya dihentikan.
Penghematan dari satu langganan memang tidak selalu besar. Namun jika dikumpulkan selama satu tahun, nilainya dapat menjadi cukup berarti.
7. Tentukan Tujuan untuk Uang yang Disimpan
Menabung tanpa tujuan terkadang terasa membosankan karena kita tidak mengetahui untuk apa pengorbanan tersebut dilakukan.
Cobalah memberikan nama pada setiap tujuan.
Misalnya:
- dana darurat;
- liburan;
- pendidikan;
- membeli kendaraan;
- uang muka rumah;
- modal usaha;
- persiapan pensiun.
Tujuan membuat proses menabung terasa lebih nyata.
Daripada sekadar melihat angka di rekening, kita mengetahui apa yang sedang dibangun.
Untuk tujuan besar, pecah menjadi target yang lebih kecil. Melihat progres dari bulan ke bulan dapat memberikan motivasi untuk terus melanjutkan kebiasaan tersebut.
Apakah Harus Menggunakan Aturan 50/30/20?
Salah satu metode budgeting yang populer adalah membagi pendapatan menjadi beberapa bagian untuk kebutuhan, keinginan, dan tabungan.
Metode seperti ini dapat menjadi titik awal yang mudah dipahami.
Namun kondisi finansial setiap orang berbeda.
Seseorang yang tinggal di kota dengan biaya hidup tinggi mungkin menghabiskan porsi lebih besar untuk tempat tinggal. Orang yang memiliki tanggungan keluarga juga memiliki struktur pengeluaran berbeda dengan seseorang yang tinggal sendiri.
Karena itu, jangan merasa gagal hanya karena angka keuangan pribadi tidak sesuai dengan satu rumus tertentu.
Gunakan metode budgeting sebagai panduan, bukan aturan yang tidak boleh diubah.
Bagaimana dengan Utang?
Jika memiliki utang atau cicilan, catat semuanya secara jelas.
Ketahui jumlah saldo, pembayaran minimum, jangka waktu, dan biaya atau bunga yang berlaku.
Dengan informasi tersebut, kita dapat melihat kewajiban finansial secara keseluruhan dan menentukan prioritas pembayaran dengan lebih terencana.
Hal yang sebaiknya dihindari adalah mengabaikan utang hanya karena pembayaran minimum masih dapat dilakukan.
Semakin jelas kondisi yang dihadapi, semakin mudah membuat strategi untuk menyelesaikannya.
Jika situasinya sudah kompleks atau pembayaran mulai sulit dipenuhi, mendapatkan bantuan dari profesional keuangan yang relevan dapat menjadi pilihan yang lebih tepat dibanding mengambil keputusan berdasarkan tebakan.
Kapan Sebaiknya Mulai Berinvestasi?
Investasi sering menjadi bagian yang paling menarik ketika membicarakan keuangan.
Namun investasi bukan satu-satunya fondasi kondisi finansial yang sehat.
Sebelum terburu-buru mengejar keuntungan, pahami terlebih dahulu arus kas, kewajiban, dana darurat, tujuan, jangka waktu, dan kemampuan menerima risiko.
Instrumen yang cocok untuk seseorang belum tentu cocok untuk orang lain.
Karena itu, keputusan investasi sebaiknya dibuat berdasarkan kondisi dan tujuan pribadi, bukan hanya karena melihat orang lain mendapatkan keuntungan.
Keuangan yang Sehat Dibangun Perlahan
Mengelola uang bukan tentang menjadi sempurna setiap bulan.
Akan ada pengeluaran yang lebih besar dari rencana. Ada bulan ketika sulit menabung sebanyak biasanya. Ada pula keputusan finansial yang setelah dipikir kembali ternyata kurang tepat.
Yang penting adalah mengetahui kondisi keuangan dan terus memperbaikinya.
Mulailah dengan mencatat pengeluaran. Buat anggaran yang realistis. Sisihkan uang untuk masa depan. Bangun dana darurat dan evaluasi kebiasaan secara berkala.
Langkah-langkah tersebut terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten dapat memberikan perubahan besar.
Pada akhirnya, tujuan mengatur uang bukan sekadar memiliki saldo yang lebih besar. Tujuannya adalah membuat uang menjadi alat yang membantu kita menjalani kehidupan dengan lebih terencana, bukan sesuatu yang selalu membuat khawatir setiap kali akhir bulan mendekat.
Artikel ini bersifat edukasi umum dan bukan rekomendasi keuangan atau investasi yang disesuaikan dengan kondisi individu.
